; 𝐀𝐥𝐥𝐞𝐧'𝐬 𝐀𝐝𝐯𝐞𝐧𝐭𝐮𝐫𝐞: Roadiest Generasi Covid-19

Cari Blog Ini

Senin, 13 September 2021

Roadiest Generasi Covid-19

 



Pendahuluan.

Di akhir tahun 2020 sampai September 2021, semua kegiatan gowesku di outdoor "vacum" dikarenakan wabah Covid-19 yang semakin masif khusus nya varian baru "Delta" (Juli 2021). Selama masa pandemi tersebut, saya lebih banyak fokus gowes indoor / virtual ride dengan aplikasi Zwift di smart trainner.

Saat pandemi Covid-19, sepeda balap menjadi barang viral dan banyak peminatnya dan bagi sebagian orang, olahraga sepeda balap merupakan bagian dari gaya hidup - life style,  begitu juga sepeda jenis lain nya seperti sepeda lipat , gravel bike, MTB, dll (saya hanya fokus membahas olahraga sepeda balap).

Di artikel ini saya ingin sharing "life style roadiest generasi Covid-19" dan beberapa perubahan trend yang muncul, tulisan ini hanya sebatas 'sharing pengalaman' dari kacamata saya sebagai seorang roadiest.

Beberapa fenomenal trend / life style roadiest generasi Covid 19:

1. Roadiest "Social Media"


Dengan banyak munculnya photographer memicu gaya baru dalam olahraga sepeda balap, berbeda dengan generasi saya dulu (2009) dimana foto foto dalam kegiatan bersepeda bukan hal yang utama. Di setiap kelokan jalan terlihat beberapa photographer siap memberikan hasil jepretan terbaik dari angle posisi persepeda yang kemudian akan ditampilkan di Instagram dan jika berminat, Anda bisa membeli nya dengan harga special dan siap di posting di IG untuk meningkatkan nilai konten Anda. Terlihat penampilan roadiest semakin keren dengan jersey dan sepeda berkelas.

2. Jersey / BIB & Sepeda ala "Sultan"


Tampilan menarik dan keren terlihat beberapa merek Jersey / BIB dan frame sepeda / perlengkapan nya dengan kelas "Sultan", brand semakin beken - produk premium semakin banyak dipakai, kalo jaman saya dulu, dapat jersey sponsor aja sudah senang dan siap dipakai saat gowes, tapi saat ini jersey sponsor sebaiknya disimpan di lemari baju untuk selamanya...he..he.. sekarang jaman nya merek PNS, Speed Concept, Maap, dll. Begitu juga dengan trend frame sepeda balap yang banyak didominasi tipe aero frame seperti Cervelo S5, Spez SL7 Pinnarello F12, Trek Madone / Emonda, Factor Ostro, Canyon, dll, semakin banyak peminatnya. Di masa pandemi ini saya merasa bersyukur juga karena bisa menjual lumayan banyak perlengkapan asesoris sepeda balap sebagai hasil sampingan dari hobi.

3. Sepeda TT/Tri ( Time Trial)


Terlihat mulai banyak sepeda TT bermunculan di setiap loops ( Mozia Loops, Pantai Indah Kapuk loops, Dalkot), di karenakan banyak penutupan jalan / PPKM dan terbatas nya gowes ke luar kota, lokasi tempat dengan model loops menjadi sesuatu yang sangat diminati penghobi sepeda balap khususnya sepeda Time Trial. Rute flat menjanjikan kenyamanan dan adrenalin tinggi saat memacu sepeda TT dengan kecepatan tinggi tanpa halangan, penjualan sepeda TT juga melonjak tidak seperti biasanya, jaman saya dulu, sepeda TT peminatnya sedikit dan kebanyakan sepeda Tri - untuk triathlon saja.

4. Pelaton Ladiest Cyclist 

Penggemar sepeda balap khusus nya kaum Hawa semakin banyak dengan tampilan 'cantik cantik' - jersey dan sepeda yang keren - cool, sangat jarang terlihat di masa generasi saya ada pembalap hobi dari gender ladiest, Ada !! tapi tidak banyak, bisa dihitung dengan jari tangan. Berbeda dengan masa generasi Covid-19, kadang akan terlihat satu pelaton besar wanita semua dengan 'speed tinggi'. Saya ingin memberikan inputan kepada hobi ladiest, berhati hatilah bermain speed dengan sepeda balap, olahraga sepeda balap adalah olahraga 'bermata dua', menyenangkan tapi sangat berbahaya kalau tidak bisa mengontrol emosi apalagi bagi pemula, Falling is part of cycling like cycling is part of loving, Hi adrenalin di pelaton besar, speed tinggi, resiko bersenggolan sangat mungkin terjadi. Jangan terbuai dengan mengharapkan pujian Anda kuat - Anda luar biasa hebat, menurut saya tanpa merendahkan wanita, lebih baik olah raga sepeda balap ini digowes sebijaksana mungkin, jika Anda "accident", kerugian organ tubuh anda tidak tergantikan, berbeda dengan pria (cacat masih biasa..he..he..) dan buat ladiest, sekencang kencangnya Anda memicu speed tetap hanya dikenal sebatas komunitas kecil dimana Anda berada, tidak akan terkenal sampai di luar...he..he...kecuali Anda mau menjadi Atlet proffesional - itupun harus berprestasi baru bisa terkenal, saran saya better gowes speed " nyaman" , tidak perlu membanggakan average speed, kombinasikan warna jersey, helm , sepeda menjadi satu kesatuan yang serasi dilihat - itulah tampilan terbaik untuk Cyclist Ladiest yang sesungguhnya , sedangkan cycling performance assessment bisa di save di Strava sebagai dokumentasi dikemudian hari.

5. Semakin kompetitif - Tarkam / Average speed / Elevasi

Semakin banyak penggemar sepeda balap bermunculan semakin memicu persaingan siapa yang terkuat dan ini memang wajar karena DNA sepeda balap adalah kompetitif, bersaing untuk mendapatkan speed terbaik, jika ingin gowes santai jangan pakai sepeda balap..he..he...khusus nya di kawasan jabodetabek semenjak PPKM, rute flat menjadi idaman bagi pecinta speed, fenomena menjadi yang tebaik, tercepat sudah ada dari jaman generasi saya, tapi untuk kali ini terlihat lebih 'agresif', latihan intensif - pagi - siang - malam, jarak gowes semakin jauh dengan elevasi tinggi (gowes Everesting 8848mdpl sekali nanjak menjadi tren) akan semakin menambah nilai konten Anda, untuk di rute flat , average speed menjadi patokan utama walaupun memakai sistem drafting dalam pelaton tarkam tidaklah gampang - untuk jarak 50km dengan average speed 48km, jika anda sanggup artinya sudah masuk kualifikasi pembalap kuat kelas hobi di rute flat, jadi please jangan ada lagi postingan di sosmed tulisan gowes sendiri tanpa gandol sambil menunjukan data strava average speed nya seakan akan "saya jujur loh - tanpa drafting", sekali kali coba ikut merasakan pelaton drafting speed tinggi, suffer...Resiko bersenggolan sangat tinggi saat memacu sepeda balap dengan kecepatan tinggi sampai Heart rate threshold, hanya demi kebanggaan dan pujian, itulah olahraga dunia sepeda balap sejak dari jaman dulu. Semakin banyak postingan average speed atau elevasi tinggi di strava akan semakin banyak dapat tuain pujian. Bijaksanalah dalam bermain speed.

Setelah bertahun tahun menjalani hobi ini, menurut saya olahraga balap sepeda lebih cocok diperuntukan khusus untuk atlet, mereka latihan terstruktur dan professional, jelas dengan tujuan yang hendak dicapai, untuk hobies, Gravelbike lebih pas, kondisi permukaan wheels yang lebih lebar, posisi mengendarai diatas sepeda lebih rilex dan bisa explore rute jalan manapun tentunya dengan speed nyaman - tidak terlalu kompetitif seperti sepeda balap - just my opinion.

"Cycling is such a stupid sport, next time you are in a car travelling at 40mph (65km) think about jumping out - Naked....That's what it's like when we crash - David Millar - Pro Cyclist.


Olahraga sepeda balap termasuk sangat beresiko dan tanpa ada perlengkapan keselamatan yang mumpuni kecuali helm, bayangkan Anda mengendarai sepeda balap di turunan dengan kecepatan 60-80km hanya modal jersey tipis dan helm saja.


6. Bermunculan Coach / Trainner / Mentor dan komunitas klub baru

Komunitas / klub sepeda bermunculan seperti jamur tumbuh di musim hujan, masing masing klub memliki jargon sendiri, ada yang fokus ke tarkam / speed, ada yang specialist touring, ada yang fokus ke climbing, dll begitu juga munculnya "coach coach" untuk memotivasi hobies, kalo menurut kacamata saya : menjadi Trainer, Coach atau Mentor tidaklah mudah karena harus memiliki kualifikasi ekstra berupa Knowledge, Passion, Skill dan tentu nya methodology yang baik.

7.Ternyata beberapa Pembalap Pro juga positif Covid -19




Deretan atlet pro seperti Peter Sagan, Egal Bernal, Fernando Gaviria juga terpapar positif Covid-19, setelah sembuh terlihat performa nya drop saat mengikuti beberapa event balapan, butuh more recovery untuk balapan selanjutnya.

Masa masa saat pandemi Covid-19.

Dari awal tahun 2021 sampai hari ini, kegiatan bersepedaku 90% dilakukan secara virtual dengan mengikuti beberapa event virtual ride yang diselenggarakan beberapa komunitas sepeda join dengan perusahaan seperti Prudential insurance, JBL Audio, Garmin, dll, tujuannya supaya tidak jenuh dan termotivasi untuk tetap beraktifitas - gowes,



Dengan memakai smart trainner dan dijalankan di aplikasi virtual cycling Zwift, dengan workout climbing, race criterium menjadikan saya tetap fit secara heart rate dan massa otot terjaga. Di fase tersebut, saya mencoba 2 brand smart trainner direct drive yaitu : Wahoo Kickr gen 5 dan Garmin Tacx Neo2T ( untuk reviewnya sudah saya tulis di artikel lalu), kesimpulan nya the real direct drive smart trainner adalah Tacx Neo 2T (100% direct drive tanpa Belt) - presisi dan responsif.


Penutup

Harus diingat, semakin seseorang belajar semakin dia akan membumi. Sehingga, untuk membunuh kesombongan yang bersemayam di dalam diri, seseorang harus terus belajar dan banyak mendengar.

"Stay hungry, stay foolish" dan "stay humble"....Salam Gowes.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar